Dream Theater – The Looking Glass

I would not expect you felt alone in standing north
Better to rise above the clouds
Then be a stranger in the crowd

All that you protected doesn’t matter anymore
Rather be stripped of all your pride
Than watch your dreams be cast aside

You are caught up in your gravity
Glorifying stardom
Singing your own praise

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

You are not content with being nameless and unknown
Trying to rise above the fray
Eager to give it all away

Some will not admit that 15 minutes have expired
Too much attention much too soon
Don’t see you walking on the moon

You are caught up in your gravity
Bathing in the spotlight
Imitating fame

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

You are caught up in your gravity
Glorifying madness
Singing your own praise

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

You live without shame
You’re digging up a gold mine
Standing on the sidelines
Watching through the looking glass

Lagunya asoy. Mood booster, kalau bahasa kerennya.

Gebukan drum Mangini, gitarnya Petrucci, ditambah skill Rudess & Myung, dan terakhir vokalnya LaBrie,  jadi makin klop. Gak pernah absen dalam playlist tiap pagi, sebelum mulai aktivitas kantor.

Iklan

Suatu Sore…

Menjadi manusia bukan hanya sekedar hidup. Bisa makan, berjalan, beranak, lalu mati. Kalau begitu si pina (babi) yang di belakang rumah saya pun bisa.

Menjadi manusia harus terus merawat akal sehat. Bahwa tujuan bernegara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk itu akal sehat harus tetap dipelihara.
Kalau tidak mampu mencerdaskan, atau minimal merawat akal sehat masing-masing, berarti anda tidak ada guna lahir ke dunia. Hanya menambah populasi manusia konyol di Indonesia, yang sampai saat ini tak terhitung jumlahnya.

Kalau anda tidak berguna, berarti anda kalah dengan si pina. *bahwa si pina itu sangat dinanti, terkhusus di setiap pesta orang Batak.

~ suatu sore, ketika mendung menggelayut dan wajah-wajah gelisah mempercepat langkah menuju ke peraduan masing-masing

#poda

Nak,

Selama ini kami memberi kebebasan penuh pada kalian. Kalian bebas berbuat apa saja. Kalian berhak untuk menentukan pilihan dan memilih jalan hidup. Tak ada sedikitpun usaha kami untuk melarang, menginterupsi atau mengacaukannya. Itu semua karena kami yakin, apapun yang kalian perbuat saat ini dan suatu hari kelak adalah yang terbaik. Tak akan pernah mengecewakan, tapi akan selalu jadi kebanggaan bagi kami. (Mamak, 2012)

*perbincangan ketika bapak dan mamak berkunjung ke Bandung
*poda = petuah/nasihat

Puncak Cikuray, Oktober 2012

dari kiri – kanan : Andri, Alvin, Binsar, Nuel (pukul 04.30 WIB)

Terbangun jam 4 dini hari, karena kondisi dan keadaan di tenda cowok sudah sangat tidak mengenakkan. Bau kaki, keringat dan ketiak dimana-mana. Tidur pun tak jelas, untuk bergeser sedikit (ke kiri/kanan) sangat tidak disarankan, karena satu tenda harus dihuni 7 orang. Satu orang berukuran ‘super’ dan hanya saya sendiri yang berukuran minimalis.

Tapi, itu hanyalah ‘penderitaan’ sejenak. Lelah yang sangat pun seketika terobati begitu melihat apa yang terhampar di depan mata. Apa yang kami saksikan selanjutnya sungguh luar biasa!

Sensasi puncak benar-benar tak bisa dideskripsikan dengan kata. Duduk tenang, hirup dalam dan perlahan udara yang khas itu, nikmati apa yang ada di depan matamu.

Begitulah,
Bumi Pertiwi benar-benar menawarkan pesona yang mengagumkan.  Harus kita lestarikan, jangan sampai anak-cucu kita hanya bisa mendengar lewat cerita pengantar tidur, tak bisa menyaksikan dan menikmati langsung.

Terimakasih Tak Terhingga!

Penyusunan tugas akhir ini tidak lepas dari banyaknya bantuan, dukungan dan bimbingan oleh berbagai pihak serta kontribusi lainnya saat penulis menjalani studi di Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

  1. Bapak dan Mamak. Terimakasih untuk doa, nasihat, cinta kasih, kebebasan dan kepercayaan kepada kami seluruhnya. Terimakasih untuk segala sesuatunya Pak, Mak.
  2. Mual Parpunguan dan Kak Tina, Hero Dupa dan Kak Wikan, Armada Guntur, Novita Natalia dan Lae Nim, Daniel dan Christian Berlian Aji Sakti. Abang. kakak dan adik yang luar biasa bagi penulis, yang banyak menempa semangat & mental dalam diam, tanpa kata. Sungguh sukacita luar biasa menjadi bagian dari kalian.
  3. Tante Senty, Keluarga Besar Simatupang (terkhusus Amangboru dan Namboru Lidang), serta pasukan-pasukan tercinta, Emily dan Darren, Roy Jeconiah dan Jessica serta Jonathan Marsahala, yang semakin menambah ‘warna’ dalam hidup penulis. Senyum, tawa dan tingkah kalian sungguh menjadi penyemangat.
  4. Dr. Euis Sustini, selaku ketua Program Studi Fisika ITB yang telah banyak membantu penulis selama penyelesaian tugas akhir serta untuk semua kemudahan yang diberikan selama menempuh pendidikan di Program Studi Fisika.
  5. Dr. Eng. Alamta Singarimbun dan Dr. Eng. Enjang Jaenal Mustopa selaku dosen pembimbing, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan selama penyusunan tugas akhir, serta untuk bantuan lainnya.
  6. Dr. Fourier D.E Latief dan Novitrian, M.Si yang telah bersedia menjadi penguji pada sidang sarjana. Terimakasih banyak untuk saran serta kritik untuk penelitian tugas akhir penulis.
  7. Dr. Nenny Miryani Saptadji yang telah banyak memberikan wawasan keilmuan panas bumi.
  8. Seluruh dosen pengajar Program Studi Fisika ITB atas pengetahuan serta motivasi-motivasi yang pernah diberikan. Juga kepada staf Perpustakaan Fisika ITB serta staf Tata Usaha Prodi Fisika, terkhusus kepada Pak Yeye Burhanudin. Terimakasih atas bantuan selama ini, Pak. Mohon maaf karena telah banyak merepotkan.
  9. UKSU ITB 2007, yang bukan hanya sekedar sahabat bagi penulis. Terimakasih tak terhingga terkhusus kepada Daniel Sucipto, Chrisman serta Arion Batara yang sangat berjasa selama penulis menjalani studi di Kampus Gajah. Juga kepada Bang Leo Oke, Bapa Bernando (yang sangat memotivasi untuk Lulus Basamo), Kchap si manusia sok cool, Abaaaanggg Kevin, Jepri Marintan Turnip, Reynaldi, Janico the king of scholarship (especially Gerakan Lima Ribu), prakon Theo sang nabi palsu, prakon Oswaldz, Pratama, OctaЯeza yang jago berenang, Julius, Jimpak, Andrew Kutil, Johanter, Jonathan sang ular beludak, Irwan Fortissimo, Firman, Hansen, Ermansyah, Patuan, Daud penutor masa TPB, Nico Saripson, Javier Teng Teng Ganteng, Albert, Ditha petani jahe, Siska, Debie, Ramot, Fero, Maderil, Elsa, Desy Sitio, Mona dan sahabat lainnya. Terimakasih tak terhingga, terimakasih untuk semuanya saudara-saudariku.
  10. UKSU ITB 2006, Muncul, Manganju, Sahat sang satrio piningit, Donald, Herianto, Sutan Perkasa Bayu Siregar, Iskandar, Jo Trysno, Reinhard Manalu, Fresly bang bro, Teddy, Ivan, Moseshin, Teten senior yang sangat tidak bersahabat dan Hanna Putri.
  11. Taman Hewan In Absurdum In Progressio, Andalas Utara, Yanuar, Erwinos Sontos Sufuos, Jimmy, Rap Olo the next Soe Hok-Gie, Elfino, Bob, Herman the Balengs, Ongki dan Shadol. Para sahabat yang sering menemani penulis untuk dagon-mendagon serta scouting Carlos Fierro, Gylfi dan Mbaye Niang. Terimakasih juga untuk bantuan selama penyelesaian Tugas Akhir dan persiapan sidang sarjana.
  12. UKSU ITB 2008, Martha Christina, Dwi Friska, Deltha Fiani, Lucky Debora (pasukan Oktober Ceria), Keket, Pamela pariban super galau, Mateus sang ahli bambu dan sigale-gale, prakon Hendra nababan_in_action, Leo Sianipar, Rainhard, Richard, Jeisen el homblo, Ferlin dan Salman. Khusus untuk 8 nama terakhir : semangat-semangat buat TA dan kuliah ya, mahasiswa. Salam pergerakan, salam perjuangan!
  13. UKSU ITB 2009, Gaby Hanna, Ricko yang gaul, macho dan modis, David dan  Arifa teman berbagi nafas kehidupan, Obed dan Michael Binsar HIMAHO fans club, Rika, Virnando partnerGeologi Geothermal, Jonathan, Nuel Pratama, dan sahabat lainnya.
  14. UKSU ITB 2010, Samuel Hotman  Kant AI3 juragan AI3 Bekasi Pahae, Hadohoan, Bornok, Eyrton, Gilbert, Debby Natalia, Nirmala (regenerasi dari Bapa Bernando), Atas Park Ji Sung, Raja, Afrina, Dolly ketua Laos Mardalan, Josua Marbun yang siap sedia menemani jogging dari fountain ke fountain dan berburu power-up, Nathania atas bantuannya serta pinjaman buku, Vania untuk rudal doa selama persiapan sidang akhir, Jessica (udah ada namamu di kata pengantar, jes. Jangan pundung lagi ya), dan sahabat lainnya. Jangan pernah lelah untuk berkarya.
  15. HIMAFI ITB, Pandu Andakara rekan seperjuangan, Fadli yang paling pintar kalkulus, Yudi the best of ketua angkatan,  Dami, Hana Rjr, Rocky, Angga, Aji, Aldi (teman ngobrol paling mantap),  Guntur, Dimas, Fachri dan Jupe (4 sahabat yang juga fans sejati Serigala Roma), Haekal manusia otot, Yudhis manusia galau, Djarot, Khoe, Kun, Dompu manusia pertama dan terakhir yang lulus di ITB. Juga kepada Riri balon, Windra Yusman, untuk TA-nya yang digunakan sejuta umat, Zai, Agus, Irfan Gelo, Grendy, Sandro dan Azmy, untuk diskusi dan bimbingan selama masa kepanitiaan PPAM.
  16. GMKI Cabang Bandung, Paulus, Andhy, Daniel, Ericko, Cornelius, Erasmus, Sanjes, Duma, Andre, Hara, Prima, Dior yang angkotnya selalu ngetem, Ikhe dan  Hanna Jasmine. Terus bergerak, bro-sis!
  17. Basar Daniel Jepri Tampubolon, yang banyak memberikan ‘pencerahan’ kepada penulis. Terimakasih juga untuk semua dukungannya, ketua.
  18. Navigator ITB, Bang Atur, Bang Tigor, Bang Tulus, Bang Kardi ketua, Bang Parlin, Bang Otang, Bang Gerry, Junjungan, Dian Nauli dan Irene Nelvita.
  19. Roby Irshamukti dan Ryan Saut Sinaga bos besar Sarulla yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tugas akhir.
  20. Lyder Lelepadang dan Andrew Imada. Terimakasih untuk obrolan ngalor-ngidul, untuk pinjaman buku dan berbagi nafas kehidupan. Juga kepada Nesya Karinasesama fans AS Roma.
  21. Isser Freddy, atas inisiasinya mengenalkan keindahan alam bebas dan atas terbentuknya Laos Mardalan. Petualangan kita akan terus dan terus berlanjut. Semoga langkah kita tak akan pernah berhenti hanya pada satu titik.
  22. Kang Udin dan Kang Ujang di Sunken Court serta Kang Amut di himpunan, penyelamat saat akhir bulan menyerang.
  23. Pramoedya Ananta Toer, Y.B Mangunwijaya, Soe Hok-Gie, Paulo Coelho, Anthony de Mello, Tan Malaka, Dewi Lestari, Samuel Tumanggor dan para penulis lainnya. Terimakasih untuk karya-karya luar biasa   yang ‘mencerahkan’ pemikiran dan ‘belajar’ bersikap dan sering menemani penulis di waktu luang.
  24. Terakhir, terimakasih juga kepada kalian, kepada mereka yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Untuk semua bantuan ataupun dukungan kepada penulis, baik dalam penyusunan tugas akhir ini maupun lain hal.

Bandung, 15 Oktober 2012

Puisi Laos Mardalan

Aku ingin berbicara kepadamu tentang alam
tentang jutaan bintang yang menghiasi langit-langit malam
bergerak pelan, dengan ekor panjang bercahaya
Aku pun berdecak kagum
lalu mengucap permohonan
hanya dalam hati, dan tak ada satupun yang tahu

atau tentang gunung-gunung yang menjulang tinggi
berdiri gagah mencakar awan
mengundang hasrat lelaki untuk menapakinya

Aku ingin berbicara kepadamu tentang keindahan
langit biru bersih sejauh mata memandang
bunga-bunga edelweis bermekaran
baunya yang khas terus memanggil lebah untuk mencicipinya

atau tentang pohon-pohon kering tak berdaun 
mereka sebut itu Hutan Mati
Di tempat ini kaki terhenti lama
menatap mentari yang muncul perlahan dari balik Cikuray
sembari menyeruput secangkir kopi
ukulele dan harmonika melengkapi indahnya pagi itu

Aku ingin berbicara kepadamu tentang persahabatan
Jiwa kita menyatu
tangan yang terus menopang
walau pundak terbelenggu beban
Mengenyahkan bisikan iblis yang penuh  keegoisan
bersama-sama kearah titik yang dituju

Aku ingin berbicara kepadamu tentang kebebasan
layaknya elang dengan gagahnya mengangkasa di udara
atau seperti layang-layang yang menari-nari
menentang angin
Kita berteriak lantang
meluapkan amarah serta emosi terpendam
menumpahkan kejenuhan hati dan pikiran

Aku ingin berbicara kepadamu tentang kehidupan
yang penuh misteri, penuh tanya
namun harus ditentang dengan berani

atau tentang mereka yang selalu tertawa girang
menghamburkan uang, mencari kesenangan sesaat
sementara disana banyak yang menjeriti nasib
yang terus digerogoti lintah darat
yang mengais-ngais sampah, bahkan memakannya
yang menangis kelaparan
dan mengakhiri hidup dengan tali tambang, atau racun serangga

Aku ingin berbicara kepadamu tentang kebesaran Tuhan
tentang pagi yang berganti siang
siang berganti malam
dan malam yang berganti pagi
Sungguh tak mampu digambarkan dengan kata

Melangkahlah, kemana hati berbisik

Berjalanlah, kemana kaki ingin bergerak

Berjuanglah terus
walau nafas terengah
walau pundak terbelenggu beban
walau kaki tak mampu lagi mengayun

Berkaryalah
untukmu, dia, mereka dan untuk Bumi Pertiwi tercinta

~ Hutan Mati, Gunung Papandayan
Sabtu, 28 Juli 2012

#RIP

Selesai acara penghiburan,
Aku keluar sebentar dengan maksud menenangkan hati dan pikiran,
mungkin hembusan angin malam dapat mengobati, pikirku

Jujur saja kawan,
tak sanggup rasanya berlama-lama di dalam ruangan itu
mendengar tangis dan jeritan orangtuamu serta sanak saudara yang begitu kehilangan
apalagi saat melihatmu yang begitu gagah berbalut jas,
namun telah terbujur kaku.

Tapi,
ternyata hati  makin memanas
pikiran pun makin kacau
saat lama menatap karangan bunga ini
Aku masih tak rela kalau namamu terukir disini!

Dan sampai saat ini,
sesak, pedih, emosi itu
masih ada

Mohon maaf kalau aku belum sempat berkunjung ke rumah peristirahatan terakhirmu, sahabat
Tapi percayalah
suatu saat, aku pasti akan datang ke sana

#selamatjalan